Dalam meme, gambar bukan selalu lelucon yang berdiri sendiri. Teks dapat mengubah apa yang tampak sedang terjadi, sementara konteks memberi petunjuk tentang rujukan atau situasi yang sedang disindir. Karena itu, gambar yang sama dapat mengarah ke humor berbeda ketika kata-kata atau latar rujukannya berubah.

Tiga unsur yang bekerja bersama

Gambar menyediakan bahan visual: ekspresi, benda, atau kejadian yang terlihat. Teks memberi arah baca—misalnya dengan menyebut pikiran seseorang, menamai situasi, atau membuat kontras dengan gambar. Konteks kemudian membantu menjawab, "Ini merujuk ke apa?" Ketiganya bukan rumus kaku, tetapi cara praktis untuk mengurai mengapa sebuah meme terasa lucu atau justru membingungkan.

Bentuk meme internet pun tidak terbatas pada gambar lucu. Meme dapat berupa video, pranala, tagar, laman web, kata, atau ungkapan; ada pula meme yang membahas sejarah, sains, maupun kritik sosial [1]. Jadi, hubungan gambar, teks, dan konteks perlu dibaca sesuai bentuk serta maksud yang ditampilkan, bukan dengan anggapan bahwa setiap meme hanya mengejar kelucuan.

Gambar tetap, arah humor bergeser

bayangkan satu gambar seseorang menatap jam dengan wajah tegang. Jika teksnya berbunyi "lima menit sebelum rapat", gambar itu bisa dibaca sebagai kecemasan menjelang acara. Jika teksnya menyebut "menunggu balasan", sorotannya bergeser ke situasi menanti. Gambar tidak berubah; tekslah yang memilih bagian makna mana yang perlu diperhatikan.

Konteks dapat menggeser pembacaan lebih jauh. Tanpa mengenali rujukan yang dipakai, pembaca mungkin hanya menangkap ekspresi atau adegan. Setelah memahami rujukannya, barulah terlihat sasaran sindiran, ironi, atau permainan makna. Ini juga menjelaskan mengapa sebuah meme bisa terasa jelas bagi orang yang mengenali referensinya, tetapi kurang terbaca bagi orang yang tidak mengenalnya. Meme modern kerap visual, absurd, beragam, dan mengandalkan rujukan diri, sehingga sebagian di antaranya tidak langsung dipahami khalayak luas [1].

Cara menangkap rujukan dan sasaran lelucon

Saat sebuah meme terasa janggal atau kurang lucu, uraikan unsur-unsurnya satu per satu:

  • Perhatikan apa yang benar-benar terlihat pada gambar, sebelum menyimpulkan maksudnya.

  • Baca teks sebagai petunjuk: situasi apa yang disebut, dan bagian gambar mana yang dipasangkan dengannya?

  • Periksa rujukan yang mungkin diperlukan. Apakah leluconnya bergantung pada kejadian, format meme, atau ungkapan tertentu?

  • Tentukan arah humornya: apakah teks dan gambar saling menguatkan, bertentangan, atau membuat salah satunya terasa berlebihan?

Langkah ini bukan kunci tunggal untuk semua meme. Ada yang memang sengaja absurd, ada yang bertumpu pada rujukan khusus, dan ada pula yang menyampaikan kritik. Meme internet juga dapat berubah melalui kreativitas manusia, sehingga suatu gagasan bisa berkembang ke arah baru dari bentuk sebelumnya [1]. Ketika format atau teksnya berubah, hubungan antarelemen itulah yang perlu dibaca ulang.

Makna ada pada susunannya

Untuk memahami sebuah meme, jangan berhenti pada pertanyaan "gambar apa ini?" Tanyakan juga bagaimana teks mengarahkan gambar dan konteks apa yang membuat pasangan itu bermakna. Di situlah rujukan dan arah humor biasanya mulai terlihat—serta alasan gambar yang sama dapat menyampaikan lelucon yang berbeda.

Sumber

  • [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Meme internet. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29853798&title=Meme_internet (diakses 2026-10-17).